Rendahnya Kualitas Pendidikan

Dalam kehidupan remaja yang rata-rata umurnya 17-25 tahun, penelusuran jati diri atau proses untuk mendapatkan siapa dianya sebetulnya jadi suatu hal yang tidak terelakkan serta dalam penacarian jadi diri juga di tengahnya kehidupan sosial, seringkali mereka lakukan pemberontakan pada norma-norma yang ada pada kehidupan bermasyarakat. Semua ini terkait dengan rendahnya kualitas pendidikan yang berada di Indonesia yang kesempatan ini menepati rangking 10 dari 14 negara, sedang mutunya beberapa guru ada pada level 14 dari 14 negara bertumbuh.

Kualitas pendidikan di Indonesia sekarang ini benar-benar memprihatinkan. Ini ditunjukkan diantaranya dengan data Unesco (2000) mengenai rangking Indeks Peningkatan Manusia (Human Development Index), yakni formasi dari rangking perolehan pendidikan, kesehatan, serta pendapatan per-kepala yang memperlihatkan, jika indeks peningkatan manusia Indonesia semakin turun. Antara 174 negara di dunia, Indonesia tempati posisi ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), serta ke-109 (1999). Menurut survey Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia ada pada posisi ke-12 dari 12 negara di Asia.

Tempat Indonesia ada di bawah Vietnam. Data yang disampaikan The World Economic Komunitas Swedia (2000), Indonesia mempunyai daya saing yang rendah, pabrik jual meja kursi sekolah harga grosir yakni cuma menempati posisi ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Serta masih menurut survey dari instansi yang sama Indonesia cuma berpredikat untuk pengikut bukan untuk pimpinan tehnologi dari 53 negara di dunia.

Salah satunya unsur rendahnya kualitas pendidikan yang berada di Indonesia ialah sebab loyonya beberapa pendidik dalam mengeduk kekuatan murid, beberapa pendidik seringkali memaksa kehendaknya tanpa ada sempat memerhatikan keperluan, bakat dan minat yang dipunyai oleh semasing siswanya, letak kekurangan beberapa pendidik kita mereka belum pernah mengggali permasalahan serta kekuatan pada siswanya. Pendidikan semestinya memerhatikan keperluan anak bukan justru memaksa suatu hal yang membuat anak kurang nyaman dalam cari pengetahuan, proses pendidikan yang baik dengan memberi peluang pada anak untuk semakin kreatif lagi.

Kecuali kurang kreatifnya beberapa pendidik dalam menuntun siswanya, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan makin muram. Kurikulum yang cuma dilandaskan pada pengetahuan pemerintah saja tanpa ada memerhatikan keperluan pada warga, serta lebih parahnya lagi pendidikan tidak dapat melahirkan alumnus yang kreatif serta andal. Letak kekeliruannya, waktu kurikulum dibikin di Jakarta kemungkinan tidak memerhatikan situasi yang sedang dirasakan olah warga bawah.

Pemicu rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia diantaranya ialah permasalahan efektifitas, efektivitas serta standarisasi edukasi. Hal itu tetap jadi permasalahan pendidikan di Indonesia biasanya. Mengenai persoalan spesial di dunia pendidikan yakni:

Rendahnya fasilitas fisik.
Rendahnya kualitas guru.
Rendahnya kesejahteraan guru.
Rendahnya prestasi siswa.
Rendahnya peluang pemerataan pendidikan.
Rendahnya keterkaitan pendidikan dengan keperluan.
Mahalnya ongkos pendidikan.

Masuk era ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia jadi ramai. Keseruan itu bukan dikarenakan oleh kedahsyatan kualitas pendidikan nasional tapi semakin banyak karena disebabkan kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasaan ini karena disebabkan banyak hal yang fundamental. Diantaranya ialah masuk era ke- 21 gelombang globalisasi dirasa kuat serta terbuka. Perkembangan tehnologi serta perkembangan yang berlangsung memberi kesadaran baru jika Indonesia tidak berdiri dengan sendiri. Indonesia ada di tengahnya dunia yang baru, dunia terbuka hingga orang bebas memperbandingkan kehidupan dengan negara lain.

Yang kita alami saat ini ialah ada ketinggalan di dalam kualitas pendidikan. Baik pendidikan resmi atau informal. Serta hasil itu didapat sesudah kita memperbandingkannya dengan negara lain. Pendidikan sudah jadi penunjang dalam tingkatkan sdm Indonesia untuk pembangunan bangsa.

Oleh karenanya, kita semestinya bisa tingkatkan sdm Indonesia yang tidak kalah berkompetisi dengan sdm di beberapa negara lain.Sesudah kita perhatikan, terlihat jelas jika permasalahan yang serius dalam kenaikan kualitas pendidikan di Indonesia ialah rendahnya kualitas pendidikan di beberapa tahap pendidikan, baik pendidikan resmi atau informal. Serta hal itu yang mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan yang menghalangi penyediaan sumber daya menusia yang memiliki ketrampilan serta ketrampilan untuk penuhi pembangunan bangsa di beberapa bagian.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu diperlihatkan data Balitbang (2003) jika dari 146.052 SD di Indonesia rupanya cuma delapan sekolah saja yang mendapatkan pernyataan dunia dalam kelompok The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia rupanya cuma delapan sekolah yang mendapatkan pernyataan dunia dalam kelompok The Middle Years Program (MYP) serta dari 8.036 SMA rupanya cuma tujuh sekolah saja yang mendapatkan pernyataan dunia dalam kelompok The Diploma Program (DP).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *